KULTUR JARINGAN SKALA RUMAH TANGGA

13731636_10208745590029595_2115120994260792380_n
oleh : Ir. Edhi Sandra MSi
Kepala Unit Kultur Jaringan Laboratorium Konservasi Tumbuhan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

 

Indonesia dikenal dengan istilah Negara Mega Biodiversity artinya adalah negara yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang sangat besar. Sedemikian besarnya keanekaragaman flora dan fauna kita, terlihat dari masih adanya spesies-spesies baru yang ditemukan di hutan alam dan di dalam laut Indonesia yang tercinta ini.

Dalam kaitan dengan topik ini maka uraian akan kami batasi dengan keanekaragaman flora saja. Bisa disebutkan berbagai macam flora yang mempunyai nilai manfaat buat manusia, yaitu Tanaman Hias, Tumbuhan Obat, Pohon kayu kualitas unggul, Tanaman pangan, Tanaman pewarna, Tanaman racun, Tanaman industri dsb.

Tapi sayangnya semua kekayaan tersebut, semua emas hijau yang berlimpah tersebut (tumbuhan sering diistilahkan dengan emas hijau.) belum mampu mensejahterakan rakyat Indonesia. Kita bisa diibaratkan tikus mati dilumbung padi. Sedemikian besar kekayaan emas hijau kita, akan tetapi masih banyak masyarakat Indonesia yang kelaparan.

Indonesia masih sibuk dengan berbagai permasalahan yang menggunung, sementara rakyat sibuk mencari sesuap nasi agar tidak mati kelaparan. Sementara itu pencurian keanekaragaman flora dan fauna terus berlangsung. Dengan diiming-imingi sedikit uang maka emas hijau kita mengalir keluar negeri. Mereka (Negara maju) dengan segala teknologinya mampu mengolah bahan baku emas kita menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat, sesuatu yang sangat mahal. Dan hasil penemuan tersebut dipatenkan untuk kemudian dipasarkan kembali di Indonesia dengan harga yang sangat mahal. Padahal bahan baku tersebut berasal dari Indonesia.

Kemudian pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan keanekaragaman flora yang sangat besar tersebut dengan kondisi Indonesia yang seperti ini. Dalam hal ini kita membutuhkan suatu teknologi sederhana, suatu teknologi tepat guna yang dapat meningkatkan kemampuan di dalam budidaya, suatu teknologi yang mampu menghasilkan tanaman yang berkualitas dalam jumlah besar dalam waktu yang relative singkat. Kita perlu teknologi yang mampu membuat varitas-varitas baru yang lebih unggul, lebih bernilai dan lebih berkualitas. Kita perlu teknologi yang tepat guna, biaya relative murah dan dapat dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Jawabannya adalah … TEKNOLOGI KULTUR JARINGAN SKALA RUMAH TANGGA”
Persepsi masyarakat Indonesia terhadap kultur jaringan selama ini adalah bahwa teknologi kultur jaringan adalah sesuatu yang asing, sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Teknologi kultur jaringan adalah sesuatu yang menuntut ilmu yang tinggi, hanya sarjana kultur jaringan saja yang dapat melakukan kultur jaringan. Dan kultur jaringan adalah suatu teknologi yang mahal, teknologi yang menuntut investasi yang sangat besar. Kultur jaringan hanya bisa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang besar dan kuat.

Semua persepsi tersebut adalah SALAH. Salah bahwa kultur jaringan itu hanya dapat dilakukan oleh sarjana kultur jaringan saja. Ada seorang teknisi ditempat saya bekerja (di IPB), dia bukan seorang sarjana, dia tidak pernah sekolah kultur jaringan, tapi keahlian dan keterampilannya di dalam mengkulturkan tanaman melebihi keahlian dan keterampilan sarjana kultur jaringan. Hal ini menunjukkan bahwa bukan masalah gelar atau sarjananya akan tetapi hanya mengetahui dengan benar teknik praktis kultur jaringan dan melaksanakannya. (dalam hal ini jam terbang di dalam melakukan kultur jaringan yang terpenting).

Demikian pula, salah bahwa kultur jaringan hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang besar dan kuat saja. Memang benar bahwa di dalam pelaksanaannya kultur jaringan menuntut ketelitian dan ketekunan serta kondisi lingkungan yang bersih bahkan steril pada tempat-tempat tertentu. Akan tetapi semua itu dapat dilakukan dengan modifikasi-modifikasi yang lebih sederhana, sehingga kultur jaringan dapat dilaksanakan di rumah.

Sehingga penulis membayangkan bahwa teknologi kultur jaringan bukanlah teknolgi yang asing lagi, teknologi kultur jaringan adalah teknologi yang dapat diturunkan oleh seseorang kepada anak atau anggota keluarga lainnya, seperti contoh seorang ibu yang pandai merias wajah (salon) maka sebagian besar anak perempuannya akan mampu merias wajah. Demikian pula dengan kultur jaringan.

Dengan Kultur Jaringan skala rumah tangga ini, maka kita dapat melakukan banyak trobosan baru dalam budidaya tanaman. Dalam teknologi kultur jaringan skala rumah tangga ini, kita hanya menggunakan teknologi yang sederhana, teknologi yang sudah ditinggalkan oleh ilmuwan senior, yang sibuk dengan rekayasa genetiknya, dan high teknologi lainnya. Tapi dengan teknologi kultur jaringan yang sederhana ini banyak sekali yang dapat kita lakukan. Rupanya gap keilmuan ini sudah sangat besar, sehingga di dalam masyarakat masih banyak yang belum mengetahui apa itu kultur jaringan. Masih banyak orang yang heran melihat tanaman dapat tumbuh di dalam botol.

Dalam kesempatan ini saya mengajak dan menghimbau berbagai pihak untuk bangkit. Ayo kita masyarakatkan teknologi kultur jaringan ini. Dan saya berharap agar Agrobis, Trubus, Flona dan media masa lainnya dapat menyebarkan informasi mengenai teknologi kultur jaringan ini. Kultur jaringan adalah senjata kita untuk melawan Thailand, Taiwan, Malaysia dalam mengembangkan berbagai tanaman unggul.

Mari kita bersatu, saling Bantu membantu untuk saling berbagi pengalaman, berbagi pengetahuan mengenai kultur jaringan. Saya sudah melatih lebih dari 500 orang selama ini, dengan latar belakang yang berbeda, dari instansi yang berbeda dari seluruh Indonesia. Mari kita bersatu untuk saling membantu mengembangkan kultur jaringan ini. Saya bayangkan kalau saja semua peserta mampu membuat laboratorium kultur jaringan maka akan ada 500 laboratorium kultur jaringan di Indonesia.

Sayangnya belum semua peserta melaksanakan hal tersebut. Saya akan tetap meyampaikan teknologi ini pada masyarakat, mudah-mudahan suatu hari nanti, entah kapan, di Indonesia akan berdiri laboratorium-laboratorium kultur jaringan diseluruh pelosok Indonesia dengan berbagai spesialisasinya. Ada lab. Kultur jaringan dengan spesialisasi tanaman kehutanan, atau spesialisasi dalam anggrek, aglonema, adenium, keladi, anthurium dll. Negara luar akan kaget dengan kemampuan ini. Amin.

Tentunya anda akan bertanya: “apa benar hal ini bisa dilaksanakan?. Apakah benar saya nantinya akan mampu melakukan kultur jaringan, padahal latarbelakang pendidikan saya adalah teknik atau lainnya? “.
Berdasarkan evaluasi terhadap peserta kultur jaringan selama ini, ada beberapa faktor yang diperlukan agar hal ini dapat dilaksanakan. Faktor tersebut adalah :
1. Mengetahui ilmu dasar kultur jaringan.
2. Melihat secara langsung teknik praktis kultur jaringan
3. Mencoba melaksanakan dengan benar teknik kultur jaringan tersebut.
4. “Jam terbang” melaksanakan kultur jaringan.
5. Wawasan didalam menghadapi permasalahan kultur jaringan.
6. Sering berdiskusi dan ikut dalam wadah perhimpunan kultur jaringan.

Pertanyaan berikutnya adalah “Sebenarnya, peralatan dan bahan apa saja yang diperlukan ?”. Didalam laboratorium kultur jaringan diperlukan enkas (tempat menanam tanaman ke dalam botol), autoclave (untuk sterilisasi), alat-alat tanam (pisau bedah, pinset, gunting, dll), rak kultur dan botol serta alat-alat timbang dan alat-alat untuk membuat media.

Kemudian : “Apakah harus memakai AC dan lampu disetiap raknya?”. Sebenarnya AC tidak wajib, kita bisa modifikasi lingkungan agar tidak lebih tinggi dari 30 derajat celcius. Demikian pula dengan lampu, kita dapat menggunakan sinar ruangan biasa atau sinar matahari yang sudah diturunkan intensitasnya dengan paranet dsb. Dan hal ini sebenarnya sudah dibuktikan oleh para pengkultur anggrek yang meletakkan enkas di teras rumahnya, serta menata botol-botol kulturnya dibawah rumah plastik yang sedemikian rupa kondisi lingkungannya sudah dibuat teduh dan sejuk.

Hasil evaluasi lain yang saya dapatkan selama ini adalah bahwa para peserta masih memerlukan bantuan bimbingan dan kemudahan-kemudahan di dalam mengadakan peralatan dan bahan yang diperlukan dalam batas yang diperlukan saja. Oleh sebab itulah diperlukannya wadah untuk saling berbagi cerita tentang kultur jaringan dan saling membantu. Misalnya saling memberi kemudahan agar setiap kita dapat mengatasi permasalahan yang ada.

Sedangkan kondisi yang ada sekarang adalah masing-masing pihak merahasiakan tentang kultur jaringannya dan masing-masing bekerja sendiri-sendiri. Andai saja kita dapat saling bersatu, menggalang kekuatan, saya yakin Thailand dapat kita saingi.

Demikian pula di dalam terapannya dilapang. Maka kultur jaringan di Indonesia ketinggalan 30 tahun dengan Thailand. Di Indonesia kita masih sangat tidak familier dengan metode-metode yang ada, apalagi sampai pada bentuk-bentuk terapan untuk masing-masing tanaman. Kita belum menyusun manajemen laboratorium untuk masing-masing keperluan dan tujuan. Kita belum biasa memproduksi dalam jumlah yang besar serta belum membuat SOP (Standar Operasional Prosedur) agar quality control dapat dilaksanakan dengan baik dan jaminan mutu dapat kita hasilkan..

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah : “ Berapa biaya yang diperlukan untuk membuat laboratorium skala rumah tangga ini?”. Untuk menjawab ini maka saya membuat tingkatan-tingkatan.: (tanpa bangunan)
1. Tingkatan paling rendah adalah 5 juta rupiah untuk produksi 1000 tanaman.
2. Tingkatan kedua adalah 25 juta untuk produksi 10.000 tanaman pertahun
3. Tingkatan ketiga adalah 75 juta untuk produksi 100.000 tanaman pertahun
4. Tingkatan keempat adalah 150 juta untuk produksi 1juta bibit pertahun.

Hal ini berarti dari segi biaya maka secara perorangan dapat membuat laboratorium kultur jaringan dirumahnya. Apalagi Dinas-dinas Pemerintahan dengan dana yang ada akan sangat memadai untuk membuat laboratorium sederhana akan tetapi tetap mampu memproduksi bibit yang berkualitas. Tidak perlu gengsi-gengsian dengan berbagai peralatan dari luar negeri, akan tetapi mari kita buktikan bahwa dengan peralatan yang seadanya kita mampu memproduksi bibit unggul. Demikian tulisan ini, semoga mampu menggugah semangat kita untuk sama-sama bangkit mendobrak kepurukan yang ada sekarang. Amin.

www.eshaflora.com

4 thoughts on “KULTUR JARINGAN SKALA RUMAH TANGGA

  1. saya sangat setuju, tapi skillnya orang indonesia masih kurang. saya lihat pekerja subkultur di cina bisa kerja 4 kali lebih banyak dari pekrja indonesia. masih perlu kerja keras pak terutama manusianya di improve skillnya.

  2. Betul Pak Freddy P…kita memang harus lebih keras lagi dalam bekerja dan belajar…..
    Demikian pula dalam hal kemauan / motivasi harus kita tingkatkan lagi. Terima kasih atas masukannya Pak Freddy.
    Salam
    edhi sandra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s