Prosedur Kultur Jaringan

Bagai manakah prosedur Kuljar…?

ini dia PROSEDUR NYA ……………

6 thoughts on “Prosedur Kultur Jaringan

  1. Memang betul bahwa kultur jaringan sebenarnya bisa dilakukan dengan sangat sederhana. Dengan memegang prinsipnya maka kita dapat memodifikasi alat dan bahan. Mungkin ada baiknya saya lampirkan dibawah ini mengenai artikel mengenai hal ini, yang merupakan artikel trubus melalui wawancara dengan saya dan team esha flora. Terima kasih

    Delapan Inovasi Paling Top:
    Kultur Jaringan Aglaonema di Dapur

    Bagi sebagian orang, taoge dan buncis paling hanya dibuat oseng-oseng. Pisang untuk cuci mulut dan air kelapa buat minumnya. Namun Ir Edhi Sandra MSi, di Bogor, memakai semua bahan itu sebagai media kultur jaringan. Para penghuni dapur itu menyulap ujung tunas sepanjang 3 cm jadi 1.000 tanaman.
    Semua berawal 14 tahun silam di ruang sempit 2 m x 3 m yang berisi autoclave, laminar, dan botol kultur di rak setinggi 2 m. Di salah satu laboratorium kultur jaringan Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor itu Edhi menatap 17 bahan media Murashige dan Skooge (MS) dengan wajah bingung. “Harga bahan media MS saja sudah Rp15-juta, belum biaya lainnya,” kata kepala unit kultur jaringan di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB, itu. Padahal, ketika itu dana yang dimiliki sangat minim.
    Ketika itu media MS harus diracik sendiri, belum ada yang dijual dalam bentuk jadi. Untuk membuat media MS 1 liter, mestinya butuh hanya 0,25 mg sodium molybdate, Na2MoO4. Apesnya, bahan itu tak bisa dibeli eceran. Edhi mesti membeli kemasan paling kecil isi 100 g. Harganya Rp690.000,- (Hormon Thidiazuron 100 mg, harganya 1,7 juta, padahal pemakaian sekitar 0,005 – 0,2 mg/l, atau CoCl2 25 g harganya 1,3 juta, pemakaian hanya 0,025 mg/l)
    Kegundahan Edhi sirna setelah bertemu Prof M Yahya Fakuara (almarhum), guru besar di Fakultas Kehutanan, IPB. “Jangan menyerah, gunakan plasma nutfah yang banyak di Indonesia. Jangan mengekor terus dengan teknologi Barat,” ujar Edhi mengulangi ucapan Yahya. Kata-kata pria yang meraih gelar doktor di University of The Philippines itu membuat pikiran Edhi mengkristal. Ingatannya melayang ke masa kuliah tingkat satu dulu.

    Air kelapa
    Di tingkat pertama kuliah, 1984, Edhi gemar mengoleksi anggrek. Di dunia anggrek itulah Edhi mengenal air kelapa. Para penganggrek senior yang tak mengenal ilmu pertanian kerap menggunakan air kelapa sebagai campuran media penumbuh biji anggrek dalam botol. Edhi lantas membuka-buka literatur mengenai air kelapa. Ia menemukan air kelapa kaya potasium atau kalium hingga 17%. Dengan kalium tinggi itu, air kelapa merangsang pembungaan anggrek dendrobium dan phalaenopsis. Mineral lain seperti natrium (Na), kalsium (Ca), magnesium (Mg), ferum (Fe), cuprum (Cu), fosfor (P), dan sulfur (S) ada dalam air kelapa.
    Air kelapa juga mengandung gula 1,7—2,6%, protein 0,07—0,55%, dan berbagai vitamin seperti asam sitrat, asam nikotinat, asam pantotenal, asam folat, niacin, riboflavin, dan thiamin. Air kelapa juga mengandung 2 (kelompok) hormon alami auksin dan sitokinin.
    Dalam kultur jaringan auksin berperan memicu terbentuknya kalus, menghambat kerja sitokinin membentuk klorofil dalam kalus, mendorong proses morfogenesis kalus, membentuk akar, dan mendorong proses embriogenesis. Sedangkan sitokinin merangsang pembelahan sel, proliferasi meristem ujung, menghambat pembentukan akar, dan mendorong pembentukan klorofil pada kalus.
    Sayang, Edhi tak bisa langsung memakai air kelapa sebagai media kultur jaringan. “Komposisi untuk media anggrek dan kultur jaringan berbeda,” ujar Sarjana Biologi, IPB, itu. Jiwa peneliti yang kuat mendorong Edhi meneliti air kelapa yang ideal bersama mahasiswanya. Beragam volume air kelapa mulai dari 150 ml, 200 ml, 250 ml, hingga 500 ml per liter media kultur diuji kecocokkannya. Empat bulan berselang Edhi mendapat takaran yang pas, 150 ml air kelapa/l media.
    Usai meneliti komposisi air kelapa yang pas, Edhi mencari bahan pemasok unsur hara. Lazimnya pada kultur jaringan dipakai bahan proanalis alias senyawa murni. Misalnya KNO3 murni. “Karena murni, maka harganya mahal,” kata ahli fisiologi tanaman itu. Ia lalu mengganti sumber unsur hara dari proanalis dengan teknis (kemurnian rendah, red) yang murah. Misalnya KNO3 murni yang harganya Rp900.000/100 g digantik pupuk NPK yang mudah diperoleh di toko pertanian. Harganya di bawah Rp50.000. Dengan begitu bisa menghemat biaya.

    Sayur dari dapur
    Namun, itu saja belum cukup, ada 6 penyusun media kultur yang wajib dipenuhi: unsur makro dan mikro, vitamin, sumber energi, bahan organik seperti asam amino dan asam lemak, pemadat, serta hormon. Lagi-lagi demi menghemat biaya Edhi menggunakan pisang ambon sebagai sumber energi di media kuljar. Itu karena anggota famili Musaceae itu mengandung karbohidrat yang berenergi tinggi. Dalam 100 gram berat kering pisang mengandung energi 136 kalori; 45 mg betakaroten; 0,5 mg vitamin B6; 2 mg besi; dan 0,8 mg seng. Tanaman asli Asia Tenggara itu juga mengandung tiamin, riboflavin, niasin, vitamin A dan C, kalium, dan mangan.
    Edhi juga menggunakan sayuran taoge dan buncis yang biasa dimasak sang istri sebagai campuran bahan media. Yang disebut pertama mengandung antioksidan, vitamin E, kanavanin—jenis asam amino—, dan hormon auksin. Sementara buncis mengandung protein, karbohidrat, vitamin, serat kasar, dan mineral. Namun, yang paling penting diambil dari buncis adalah sitokinin yang bisa memacu pertumbuhan tunas.
    Akhirnya setelah 10 tahun meneliti, Edhi menemukan takaran ideal bahan organik untuk media kultur jaringan. Ia pun membangun laboratorium di rumah tinggalnya di Taman Cimanggu, Bogor.
    Sayang, semuanya tak berjalan mulus. Kalus dalam botol kaca mengalami kontaminasi hingga 40—60%. Anehnya terjadi 1—2 bulan setelah eksplan dimasukkan ke dalam botol. “Yang parah kontaminasi bisa sampai 80% jika mati lampu,” kata Ir Hapsiati, sang istri. Maklum, laboratorium di rumah Edhi tak secanggih milik perusahaan besar. Di perusahaan modern kultur jaringan dilakukan di ruang steril. Pelakunya memakai pakaian khusus. Suhu ruang inkubasi tempat penyimpanan tanaman kultur pun stabil, 20° C, lantaran ber-AC. Di tempat Edhi, ruang inkubasi dekat dengan dapur dan tak berpendingin. Bahkan kucing piaraannya bebas berkeliaran dan tidur di ruang inkubasi.

    Karet gelang
    Kini kepala Edhi dipenuhi angan-angan untuk mengatasi kontaminasi. Ayah 3 anak itu lebih berhati-hati mensterilisasi eksplan, botol, dan media. Namun, betapa keras ia jaga kebersihan, bakteri selalu datang. Sampai suatu ketika, awal 2008, pria bertubuh gempal itu terkejut melihat 3 botol berisi eksplan di ruang terbuka di lantai 2 rumahnya malah tumbuh subur. “Di sana mereka kehujanan dan kepanasan selama sebulan, tapi tak terkontaminasi bakteri sedikit pun,” ujar master ilmu pengetahuan kehutanan, IPB, itu. Usut punya usut penutup botol berbeda dengan yang lain. Tutup plastik dobel 3 dengan 30 karet gelang.
    Biasanya hanya satu lapis plastik dan diikat 2 karet gelang untuk botol yang ditaruh dalam ruang inkubasi. Rupanya ketika itu Edhi ingin menguatkan tanaman kultur sebelum dikeluarkan dari botol alias hardening. Plastik transparan yang digunakan untuk menutup botol digandakan 3 kali dan ikat dikencangkan dengan 30 karet gelang.
    Dari kasus itu Edhi menduga sumber masalah terletak pada kerapatan penutup botol. Ternyata benar, selapis tutup plastik tak bisa menahan tekanan dari luar yang besar. Karet gelang pun mudah memuai jika terkena panas sehingga 2 karet tak cukup kencang. Bila memuai, ikatan kendor. Bakteri pun masuk dan beranak-pinak dalam botol yang kaya hara.
    Contoh paling mudah terlihat pada kerupuk yang dibungkus plastik. Meski tertutup rapat, tetap saja menjadi liat setelah beberapa hari. Itu karena tekanan di luar lebih tinggi dibanding dalam plastik sehingga udara masuk. Artinya, pori pada plastik bisa ditembus kontaminan. Edhi lalu menambah lapisan plastik penutup botol dan karet gelang. Mulai dari 6, 8, dan seterusnya hingga akhirnya didapat yang benar-benar ideal. Kini ia menggunakan 5 lapis plastik transparan dan 50 karet. Hasilnya, tak ada lagi eksplan yang terkontaminasi meski kucing kesayangan Edhi kerap beristirahat di antara botol-botol berisi eksplan.

    Patahkan mitos
    Penelitian Edhi mematahkan mitos teknik kultur jaringan berbiaya mahal dan sulit. Dengan cara Edhi yang organik, biaya produksi hanya Rp400/tanaman. Sementara dengan MS dan bahan-bahan murni Rp1.000/tanaman.
    Menurut Edhi, semua jenis tanaman dapat diperbanyak dengan metode ini. Edhi telah berhasil mengkultur nepenthes, aglaonema, dan anggrek. Itu terlihat di ruang inkubasi seluas 2 m x 3 m. Di sana botol-botol berisi eksplan Nepenthes rafflesiana, aglaonema tiara dan widuri, philodendron, serta jati berbaris rapi di rak besi 3 tingkat.
    Bila jumlah tanaman telah memenuhi kuota, misal 1.000 tanaman, Edhi mengeluarkan dari botol dan menanamnya secara berkelompok dalam pot bermedia (campuran )sekam bakar (dan cocopeat) Contohnya aglaonema lipstick klasik yang ada di teras depan rumah. Enam bak berbentuk segi empat berisi kerabat aglaonema itu ditutup plastik berbentuk seperti tutup saji berukuran 50 cm x 40 cm x 40 cm. Tanaman ditutup rapat selama sebulan. Lalu penutup dibuka secara bertahap agar lipstik tak kaget menghadapi lingkungan sekitar yang kondisinya fluktuatif. Maklum, selama ini ia hidup manja dalam botol dengan suhu stabil dan hara melimpah.
    Awalnya penutup dibuka selama 2 jam dalam sehari. Lalu meningkat jadi 4 jam, 6 jam, hingga lipstik tak membutuhkan pelindung lagi. Selang 2 bulan setelah dikeluarkan dari botol, sri rejeki sudah beradaptasi dan bisa dipindah ke pot tunggal. Total jenderal 1.000 lipstik dihasilkan dari “dapur” Edhi hanya dalam waktu setengah tahun. (Rosy Nur Apriyanti)

    Media Organik

    Beginilah cara buat media dasar ala Ir Edhi Sandra, MS per satu liter: (Ilustrasi di Abah)
    1. Siapkan bahan berupa 500 ml air dalam gelas piala, air kelapa muda, 2 g pupuk seimbang (Hiponex, Gandasil D, atau Vitabloom D), 20 g gula pasir, dan satu bungkus agar, 7—8 g.
    2. Masukkan pupuk, gula, dan agar ke dalam gelas piala berisi air 500 ml satu per satu lalu aduk hingga rata
    3. Tambahkan air kelapa hingga campuran mencapai 1 liter
    4. Masak media hingga mendidih
    5. Tuangkan media ke dalam botol-botol kultur. Botol kecil sebanyak 10 ml; botol selai, 20 ml; dan botol saus, 35 ml.
    6. Tutup botol berisi media dengan plastik dan karet
    7. Masukkan botol berisi media ke dalam autoklaf hingga suhu 121°C dan tekanan 1,5 atm selama 25 menit. Matikan kompor dan tunggu hingga kembali ke tekanan dan suhu nol.
    8. Keluarkan botol lalu simpan di tempat sejuk sampai siap untuk penanaman eksplan.

    Catatan:
    1. Untuk membuat media akar dan tunas, ganti bahan-bahan di No.1 dengan 500 ml air dalam gelas piala, 150 ml air kelapa muda, 2 g pupuk seimbang (Hiponex, Gandasil D, atau Vitabloom D), 20 g gula pasir, satu bungkus agar, 7—8 g, dan 500 g taoge, buncis, kentang, atau ubi
    2. Blender taoge lalu saring dengan kain dan ambil airnya untuk media yang bertujuan menumbuhkan akar. Sedangkan untuk menumbuhkan tunas, ganti toge dengan buncis, kentang, atau ubi.

    Vitabloom D), 20 g gula pasir, satu bungkus agar, 7—8 g, dan 500 g taoge, buncis, kentang, atau ubi
    2. Blender taoge lalu saring dengan kain dan ambil airnya untuk media yang bertujuan menumbuhkan akar. Sedangkan untuk menumbuhkan tunas, ganti toge dengan buncis, kentang, atau ubi.

    Sinopsis

    Delapan Inovasi Paling Top:
    Kultur Jaringan Aglaonema di Dapur

    Siapa bilang kultur jaringan mahal. Dengan biaya Rp400.000 Ir Edhi Sandra MSI bisa menghasilkan 1.000 tanaman dalam waktu 6 bulan. Artinya, biaya produksi hanya Rp400/tanaman. Semua itu berkat pisang, taoge, buncis, dan air kelapa. Pengerjaannya pun tak harus di laboratorium besar yang steril. Hanya meracik media di dapur, perbanyakan aglaonema dengan kultur jaringan bisa dilakukan. (Rosy Nur Apriyanti)

  2. MULTIPLIKASI TANAMAN MELALUI KULTUR JARINGAN
    Multiplikasi atau perbanyakan tanaman dalam kultur jaringan ada dua cara :
    1. Mengunakan metode stek mata tunas. Dengan mengkulturkan mata tunas kemudian kita tumbuhkan dalam media kultur yang komposisi hormonnya mengarah pada tumbuhnya tunas dalam jumlahyang besar/banyak. Setelah sekian waktu maka kultur tersebut dipotong-potong lagi permata tunasnya untuk kemudian di subkultur pada media yang sama agar jumlah tanaman sampai pada jumlah yang kita inginkan kemudian kita sub kultur kembali untuk ditumbuhkan akarnya, baru setelah itu diaklimatisasi. Setiap subkultur kisaran waktunya sekitar 1 – 3 bulan. Kemampuan perbanyakan setiap tanaman akan berbeda-beda sesuai dengan jenis tanamannya dan komposisi media dan hormon yang digunakan. Media kultur yang digunakan adalah media Murashige and Skoog dengan ditambah hormon BAP 2 mg/liter, atau ditambahkan BAP 2 mg/l + Thidiazuron 0,2 mg/liter.

    2. Metode kloning. yaitu eksplan (bagian tanaman yang dimasukkan ke dalam botol di arahkan pertumbuhannya ke arah kalus. Kalus adalah sekumpulan sel yang tidak terorganisir. Kemudian dari kalus tadi diarahkan ke terbentuknya embrio somatik, kemudian ke arah tumbuhnya tunas-tunas kecil kemudian tunas tersebut dibesarkan. Jadi dengan metode ini terlihat bahwa tahapannya jauh lebih panjang, akan tetapi jumlah bibit yang dihasilkan jauh lebih besar. Dan yang perlu diketahui juga adalah bahwa dengan metode ini sangat mudah timbulnya variasi pada bibit yang dihasilkan. Hal ini disebabkan adanya fenomena variasi somaklonal. Sedangkan teknik perbanyakan dengan stek mata tunas akan lebih stabil, akan tetapi kalah dalam hal jumlah bibit yang dihasilkan. Terima kasih.

  3. Terimakasih banyak atas pengetahuan yang saya dapatkan dari Anda, sunguh sangat bermanfaat, sukses selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s