Peranan Hormon atau ZPT dalam Kuljar

Hormon atau Zat Perangsang Tumbuh (ZPT), merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan tanaman. Faktor yang mempengaruhi kearah mana tanaman tumbuh dan berkembang yaitu faktor luar (tanah,pupuk,pencahayaan atau irigasi) dan faktor dalam (terutama hormonal).

Didalam teknik kultur jaringan (kuljar) , tingkat keberhasilan kuljar sangat bergantung pada hormon atau ZPT yang diberikan

Arti hormon secara sederhana adalah pembawa pesan kimia, Arti hormon adalah senyawa organik bukan nutrisi tanaman yang disintetis disalah satu bagian tubuh tanaman dan dipindahkan ke bagian lan dalam konsentrasi rendah mampu menimbulkan tanggapan biokimia, fisiologis, dan morfologi.

Tanggap biokimia meliputi proses proses kimia dalam sistem biologi, Tanggap fisiologis diantaranya mengenai proses pertumbuhan, adaptasi, diferensissi dan perkembangan tanaman. Tanggap morfologi yaitu terbentuknya kekhususan bentuk daun akar, batang bunga dll bag tanaman dalam rangka mempertahankan hidup. Respon bisa + atau negatif.

ZPT adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam konsentrasi rendah (<1>

  • hormon harus ada dalam jumlah yang cukup dalam sel yang tepat.
  • hormon harus diikat dan dikenal oleh setiap kelompok sel yang tanggap terhadap hormon (sel sasaran yang peka). Perlu protein penerima yaitu protein yang memiliki struktur kompleks yang dapat mengenali dan memilih diantara molekul yang lebih kecil.
  • protein penerima tersebut (konfigurasinya diduga berubah saat menerima hormon) harus dapat menyebabkan perubahan metabolik lain yang mengarah ke penguatan isyarat atau kurir hormon.
  • Peran hormon atau ZPT adalah mengendalikan aktivitas gen
    Ekspresi gen replikasi (penggandaan DNA), transkripsi (biosintesis RNA) dan translasi (biosintesis protein)

    Penggandaan DNA merupakan proses yang paling penting dalam kelangsungan hidupnya dan penggandaan merupakan replikasi dari DNA induknya dan terjadi sebelum proses pembelahan sel.

    Proses transkripsi merupakan proses biosintesis RNA yang menggunakan molekul DNA sebgai bahan cetak atau template. Jenis-jenis rna mRNA, t Rna dan r RNA.

    Proses translasi merupakan proses biosintesis protein atau rantai polipeptida denga menggunakan instruksi genentik dalam mRNA untuk menentukan asam-asam amino apa yang dibentuk. Penguatan gen adalah proses penguatan yang tinggi terhadap aktifitas replikasi DNA dan transkripsi berulang dna menjadi mRNA yang diikuti translasi mRNA menjadi protein (enzim) yang memiliki aktifuitas katalis tinggi pada konsentrasi rendah dan menghasilkan salinan produk sel penting. Produk ini menentukan jenis organisme, serat penampilan fenotif.

    Peran hormon dikelompokkan atas :

    1. Hormon mempengaruhi permebilitas membram, bila naik maka akan memacu ion-ion diluar sel masuk dsbaliknya
    2. Hormon mampu menghambat atau mempercepat reksi enzimatik
    3. Hormon dapat mempercepat penyediaan ATP, koenzim, kofaktor dan vitamin pd reaksi enzimatik
    4. Hormon berfungsi seb pengaktif, jika pada enzim ada inhibitornya.
    5. Hormon dapat berperan sebagai pengaktif precusor enzim, sebagai second mesenger pada sintesis protein, sehingga mempercepat proses reaksi tsbt.
    6. Hormon sebagai pengatur efek allosterik (sebagai efektor), hormon akan menempatkan pada posisi yang aktif.
    7. Hormon dapat mempengaruhi langsung dalam aktifitassisntesis protein, baik pada intisel atau ribosom.

    Bookmark and Share

    Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Tanaman

    Konsep Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) diawali dari konsep hormon. Hormon tanaman atau fitohormon adalah senyawa-senyawa organik tanaman yang dalam konsentrasi rendah mempengaruhi proses-proses fisiologis. Proses-proses fisiologis terutama mengenai proses pertumbuhan, diferensiasi dan perkembangan tanaman. Proses-proses lain seperti pengenalan tanaman, pembukaan stomata, translokasi dan serapan hara dipengaruhi oleh hormon tanaman.

    Dengan berkembangnya pengetahuan biokimia dan industri kimia banyak ditemukan senyawa-senyawa yang mempunyai fisiologis serupa dengan hormon tanaman. Senyawa ini dikenal dengan nama ZPT.

    Batasan tentang zat pengatur tumbuh pada tanaman (plant regulator), adalah senyawa organik yang tidak termasuk hara (nutrient), yang mempunyai 2 fungsi yaitu menstimulir dan menghambat atau secara kualitatif mengubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sedangkan fitohormon adalah senyawa organik yang bukan nutrisi yang aktif dalam jumlah kecil yang disintetis pada bagian tertentu, yang umumnya ditranslokasikan ke bagian lain tanaman yang menghasilkan suatu tanggapan secara biokimia, fisiologis dan morfologis.

    Saat ini dikenal terdiri dari lima kelompok yaitu auksin, giberelin, sitokininetilin dan asam absisak (ABA).

    Untuk pembelian hormon ini anda dapat menghubungi Eshaflora Plants Tissue Culture …

    Bookmark and Share

    Anggrek Hitam (Black Orchid)

    Coelogyne Pandurata disebut Anggrek Hitam atau Black Orchid, Bunganya cukup harum semerbak dan biasa mekar pada bulan Maret hingga Juni. Anggrek ini memiliki lidah (labellum) berwarna hitam (sehingga diberi nama Anggrek Hitam) dengan sedikit garis-garis berwarna hijau dan berbulu. Sepal dan petal berwarna hijau muda.Coelogyne pandurata Lindley tersebar di Malaysia, Sumatra, Kalimantan dan di Philipina di Mindanao, Luzon dan pulau Samar. Anggrek hitam ini mengalami penurunan jumlah yang cukup besar, kini diperkirakan jumlah nya lebih banyak berada di tangan para kolektor anggrek.

    Untuk mencegah terjadinya kepunahan spesies ini, maka harus diupayakan teknik budidaya yang tepat untuk menyediakan tanaman-tanaman baru anggrek hitam secara cepat dengan kualitas dan kuantitas yang baik, yaitu dengan
    teknik kultur in vitro




    Referensi : anggrek.org, wikipedia.org, Youtube.com

    Bookmark and Share

    Fotomorfogenesis

    Efek lain dari cahaya diluar fotosintetis adalah mengendalikan wujud tanaman, yaitu perkembangan struktur atau morfogenesisnya. Pengendalian morfogeneis oleh cahaya disebut fotomorfogenesis.
    Agar cahaya mampu mengendalikan perkembangan pertumbuhan maka tumbuhan harus menyerap cahaya.

    Empat penerima cahaya dalam tumbuhan :
    1. fitokrom, paling kuat menyerap cahaya merah dan merah jauh. Ada juga fitokrom penyerap cahaya biru.
    2. kriptokrom, sekelompok pigmen yang serupa mampu menyerap cahaya biru dan panjang gelombang ultraviolet 320-400 nm, karena peran pentingnya pada kriptogram (tumbuhan tak berbunga).
    3. Penerima cahaya UV-B, senyawa tak dikenal/bukan pigmen yg menyerap radiasi UV 280-320 nm
    4. Protoklorofilida a, pigmen cahaya yang menyerap cahaya merah dan biru , bias tereduksi menjadi klorofil Aa.
    Pengaruh cahaya pada perkecambahan :
    1. Produksi klorofil terpacu oleh cahaya
    2. Pembukaan daun terpacu oleh cahaya
    3. Pemanjangan batang terhambat oleh cahaya
    4. Perkembangan akar terpacu oleh cahaya.FITOKROM

    Penemuan sitokrom dari hasil pengamatan 1920, bahwa perbandingan lamanya masa penyinaran dan masa gelap mengendalikan pembungaan pada tumbuhan tertentu.

    C tk tumbuhan hari pendek (membutuhkan waktu malam yang lebih panjang untuk berbunga), akan terhambat bila dalam waktu malammnya diseling ada cahaya dalam waktu singkat. Yang paling efektf adalah cahaya merah jauh yang menghambat pembungaan tumbuhan hari pendek.

    Cahaya merah memacu perkecambahan biji-bijian, tetapi cahaya merah jauh dan biru menghambat. Cahaya merah jauh panjang gelombangnya lebih panjang dr cahaya merah 700-800nm (diatas 760 tdk terlihat oleh mataatau infra merah dekat).

    Pigmen cahaya merah disebut Pr (666nm) , pigmen cahaya biru dapat diubah oleh cahaya merah menjadi Pfr (730 nm)yang dapat menyerap cahaya merah jauh (warna hijau zaitun). Dan pigmen biru bias dihasilkan oleh Pfr.

    Fitokrom merupakan homodiner dr dua polipeptid identik, dgn Bm 120 kDa Polipeptid tadi masin2 mempunyai gugus prostetik disebut kromofor yang menempel pada atom belerang pada residu sisteinnya. Kromofor ad tetrapirol rantai terbuka,tersebut serupa dgn [pigmen pikobulin utk fotosintesis ganging merah dan sianobakteri Perubahan cis-trans g mengubah Pr menjadi Pfr

    KRIPTOKROM penerima cahay biru/UVA

    UV A panjang gel antara 320-400 nm. Kriptokrom antara 320-500 nm, diduga berupa flavoprotein (melekat antara protein dan riboflavin), diduga bersatu dgn prot sitokrom pada membram plsma. Puncak kerjanya di daerah biru-ungu 450 nm

    Peranan cahaya pada perkecambahan biji

    Biji yg membutuhkan cahaya untuk perkecambahan disebut fotodorman, Dormansi adalah kegagalan berkecambah walaupun kelembaban dan suhu cocok. Suhu tinggi menurunkan tingkat Pfr dalam biji. Dormansi biji fotodorman akan berakhir oleh cahaya bila biji terimbibisi sebagian atau sepenuhnya. Dengan wakyu imbibisi beragam.

    Jumlah klorofil yg terdapat pada embrio penting apakah biji akan fotodorman atau tdk. Sebabnya klorofil akan menyerap panjang gel erah jauh dan akan menghalangi pembentukkan Pfr dalam embrio yg masak, biji matang (tdk ada klorofil), akan membutuhkan pg merah hari panjang lebih banyak hasilkan biji fotodorman. (kuljar)

    Bookmark and Share

    Estetika dan Eksotika Flora Tropis

    Oleh: Ir. Edhi Sandra, MSi

    Indonesia terkenal dengan “Mega Biodiversity” nya. Beranekaragam tumbuhan terdapat di Indonesia. Selain berfungsi sebagai komponen ekosistem Keanekaragaman tumbuhan itu mempunyai nilai manfaat buat manusia. Salah satu nilai manfaat tersebut adalah nilai estetika dan eksotika.

    Nilai estetika dan eksotika bermanfaat buat manusia dalam hal penyembuhan stress, menenangkan dan menyejukkan hati, menikmati keindahannya, sebagai kebanggaan, rasa puas kalau dapat merawatnya dengan baik sampai berbunga, serta meningkatkan pendapatan.

    Untuk dapat meningkatkan nilai manfaatnya bagi manusia maka perlu mengetahui semua informasi yang berkaitan dengan estetika dan eksotika tumbuhan tropis ini. Mulai dari mengetahui keanekargamannya, mengetahui nilai kelangkaannya, mengetahui karakter pertumbuhannya, serta mampu menggunakannya sebagai sarana untuk menambah pendapatan sampingan atau bahkan pendapatan utama.

    Dari kesekian macam manfaatnya bagi manusia maka fungsinya sebagai sarana untuk mendapatkan tambahan sampingan merupakan nilai manfaat yang saat ini sedang dilakukan oleh banyak orang. Akan tetapi banyak dari orang-orang tersebut yang tersandung dalam hal budidaya, tidak mampu mengenal karakter tanaman, tidak mengetahui nilai atau harga pasaran dari tanaman tersebut.

    Oleh sebab itulah dalam pelatihan kultur jaringan dan magang mahasiswa ini kami berikan pengetahuan, pemahaman dan wawasan mengenai estetika dan eksotika tumbuhan tropis.

    Estetika Tumbuhan Tropis
    Keindahan yang muncul dari tumbuhan baik karena keindahan komponen tumbuhan, atau kesatuan dari komponen tumbuhan atau gabungan dari berbagai tumbuhan atau gabungan dengan ornament yang diberikan atau perlakuan yang diberikan..

    Dalam kaitan dengan estetika ini, orang lebih sering menyebutnya dengan tanaman hias tropis. Ragam Keindahan Tumbuhan Tropis ada yang terlihat dan ada terpendam, statis dan dinamis, keindahannya ada yang asli, ada pula yang buatan, dengan diberi hiasan dan kemasan

    Eksotika Tumbuhan Tropis
    Eksotika mengandung pengertian: asing, jarang didapat, aneh, ganjil, luar biasa. Ragam eksotika tumbuhan tropis antara lain; tumbuhan langka secara alami; tumbuhan yang terjadi karena mutasi (variegata, kristata, kompakta), tumbuhan yang diberi perlakuan.

    Meningkatkan Keindahan & Kelangkaan agar Nilai Komersial Meningkat
    Faktor-kator yang berkaitan dengan peningkatan keindahan dan kelangkaan agar nilai komersial meningkat adalah : Potensi keindahan dan kelangkaan; Perawatan yang baik : ukuran jumbo, sehat, rimbun kompak, cerah; Modifikasi agar lebih indah, aneh, ukuran mini, unik; Pengemasan : pot, bebatuan, pita, dll

    Nilai Komersial & Keindahan serta Keunikan Dipengaruhi oleh:
    Faktor yang mempengaruhi nilai komersial dan keindahan serta keunikan dipengaruhi oleh: murni keindahan; trend atau permintaan pasar; permainan pedagang; kelangkaan dan keunikan.

    Tanaman Hias sebagai Usaha Tambahan Financial (bisnis sampingan):
    Faktor yang mempengaruhi tanaman hias sebagai usaha tambahan finansial (bisnis sampingan) adalah: Mengenal jenis; Mengetahui harga pasaran; Mengetahui teknik budidaya dan perbanyakannya. (masukan teknologi); Membentuk jaringan (banyak kenal pedagang tanaman); Mampu membuat tanaman lebih indah dan unik (masukan teknologi); Mampu memprediksi trand dan harga pasar.

    Prinsip Bisnis Tanaman Hias:
    Prinsip yang perlu diperhatikan dalam bisnis tanaman hias adalah: Hobi atau menyenangi tanaman; meyakini bahwa tanaman selalu diperlukan oleh manusia; harga selalu lebih murah dari harga pasaran; biaya operasional produksi tanaman yang efisien; kreasi dan inovasi; Memiliki tanaman yang sedang ngetrand; mampu memperbanyak; mampu merawat dengan baik.

    Membuat Produk Tanaman Hias
    Faktor yang perlu diperhatikan dalam membuat produk tanaman hias adalah: Mengacu pada trand yang sedang berlaku; Menentukan keunggulan produk berdasarkan keunggulan tanaman yg sdg ngetrand; membuat rencana untuk membuat produk : momen pemasaran; Menghitung biaya produksi dan keuntungan; Menentukan harga produk dan evaluasi pasar.

    Bookmark and Share

    Orchid History

    The first written reference to orchids was in 551 B.C. by Confucius in China where he noted their fragrance. The Chinese also wrote the first book on the cultivation of orchids in A.D. 1000 and in the 1700’s the Chinese wrote “a flower without fragrance is like a woman without virtue.”
    Blc Goldenzelle ‘Lemon Chiffon’
    Western civilization made the first reference to orchids in about 350 B.C. It was made by the Greek philosopher, Theophrastus, who wrote about the orchids’ medicinal value. Theophrastus named the plants orchis the Greek word for testicle as the tubers on a local terrestrial orchid looked like testicles.

    The first written reference to the exotic species from the Americas was in the 1500’s where the Vanilla orchid was illustrated. The vanilla orchid was used by the Aztecs. In the second half of the 17th century the tropical orchids of Asia were discovered after the formation of the Dutch East India Company. One collector said that he collected 17000 specimens of one genus and another said that he collected as many plants of one species that he could find and destroyed the rest to preserve its rarity.

    From the beginning of the 19th century, tropical orchid collecting increased but only by the rich. It was not until 1856 that the first flowering hybrid orchid was displayed by John Dominy.

    This orchid mule as some orchidists called it was a cross between Cattleya furtata and Calanthe masuca. It was called Cal. Dominyi. In 1901 The House of Sander in England published an orchid guide and at the end a small hybrid list. Fred Sander made it his life work to correctly list all hybrids so that in 1946 the first edition of “Sanders List of Orchid Hybrids” was published. In 1961 the Royal Horticultural Society took over this mammoth task and have been doing it ever since.

    That is why the orchid family is the only plant in the plant kingdom to have a complete record going back to that very first hybrid. That is also why it is so important to correctly name, spell and clearly print our labels.

    What goes on the label?
    It tells you the orchid genus – whether it is a species or hybrid – if it is a natural cross – its grex and special name – if the cross is self or sibling – if it has any awards and if it is a mericlone (M/C).
    Labels need to be easily seen and easily read both for your own benefit and the benefit of others. When benching a plant face the inflorescence for the best viewing then make sure the label is placed where it can be seen clearly. (and the pot number). It is too easy to take a label from a pot – read it –then put it back in the wrong pot.

    Have your own catalogue and numbering system for your own information about each orchid. On the label we have the orchid name and on the back we have its catalogue number and the date when it was last potted.

    Place a small tag (a bread bag tag is fine) in the bottom of the pot with the catalogue number on it as an insurance against lost labels.

    &amp;amp;amp;lt;!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-alt:Verdana; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:&amp;amp;amp;quot;&amp;amp;amp;quot;; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:&amp;amp;amp;quot;Times New Roman&amp;amp;amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;amp;amp;quot;Times New Roman&amp;amp;amp;quot;;} p.Default, li.Default, div.Default {mso-style-name:Default; mso-style-parent:&amp;amp;amp;quot;&amp;amp;amp;quot;; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none; font-size:12.0pt; font-family:Verdana; mso-fareast-font-family:&amp;amp;amp;quot;Times New Roman&amp;amp;amp;quot;; mso-bidi-font-family:Verdana; color:black;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –&amp;amp;amp;gt;

    Species C. skinneri Var. alba

    C. is for Cattleya the genus. skinneri is the species and alba is a variety of that species. Only species have varieties. No capital letters for species. Species may be written in italics or underlined.

    &amp;amp;amp;lt;!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-alt:Verdana; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:&amp;amp;amp;quot;&amp;amp;amp;quot;; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:&amp;amp;amp;quot;Times New Roman&amp;amp;amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;amp;amp;quot;Times New Roman&amp;amp;amp;quot;;} p.Default, li.Default, div.Default {mso-style-name:Default; mso-style-parent:&amp;amp;amp;quot;&amp;amp;amp;quot;; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none; font-size:12.0pt; font-family:Verdana; mso-fareast-font-family:&amp;amp;amp;quot;Times New Roman&amp;amp;amp;quot;; mso-bidi-font-family:Verdana; color:black;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –&amp;amp;amp;gt;

    Hybrid Blc. Sylvia Fry ‘Wallacia’ FCC/AOC, AM/AOC.

    Sylvia Fry is the hybrid name or grex and ‘Wallacia’ (note the one inverted comma) is the special name for a special clone. The plant was awarded a First Class Certificate and an Award of Merit by the Australian Orchid Council.
    References :
    “What’s in a Name” by Brian Maxwell Australian Orchid Review, June ’89
    “Orchid Names” by R W Nicolle Australian Orchid Review, autumn ’88
    “Orchids” by Peter McKenzie Black

    These notes have been used at our Cultural and New Grower’s Meetings. They are from various sources and we thank the authors. All articles are supplied in good faith and the Bribie Island Orchid Society and its members will not be held responsible for any loss or damage.

    Source :  Sharing Orchids with the World

    Bookmark and Share

    Kuljar Alternatif Pengadaan Bibit Unggul

    Kultur jaringan adalah salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap.

    Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif.

    Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.

    Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah:
    1) Pembuatan media
    2) Inisiasi
    3) Sterilisasi
    4) Multiplikasi
    5) Pengakaran
    6) Aklimatisasi

    Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

    Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.

    Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

    Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.

    Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).

    Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.

    Keunggulan inilah yang menarik bagi produsen bibit untuk mulai mengembangkan usaha kultur jaringan ini. Saat ini sudah terdapat beberapa tanaman kehutanan yang dikembangbiakkan dengan teknik kultur jaringan, antara lain adalah: jati, sengon, akasia, dll.
    Bibit hasil kultur jaringan yang ditanam di beberapa areal menunjukkan pertumbuhan yang baik, bahkan jati hasil kultur jaringan yang sering disebut dengan jati emas dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih pendek dibandingkan dengan tanaman jati yang berasal dari benih generatif, terlepas dari kualitas kayunya yang belum teruji di Indonesia. Hal ini sangat menguntungkan pengusaha karena akan memperoleh hasil yang lebih cepat.

    Keuntungan Pemanfaatan Kultur Jaringan

    Sebagai Alternatif Pengadaan Bibit Unggul, memiliki keuntungan:

    • Pengadaan bibit tidak tergantung musim
    • Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat (dari satu mata tunas yang sudah respon dalam 1 tahun dapat dihasilkan minimal 10.000 planlet/bibit)
    • Bibit yang dihasilkan seragam
    • Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu)
    • Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah
    • Dalam proses pembibitan bebas dari gang guan hama, penyakit, dan deraan lingkungan lainnya
    KULTUR jaringan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk membuat bagian tanaman (akar, tunas, jaringan tumbuh tanaman) tumbuh menjadi tanaman utuh (sempurna) dikondisi invitro (didalam gelas).

    Keuntungan dari kultur jaringan lebih hemat tempat, hemat waktu, dantanaman yang diperbanyak dengan kultur jaringan mempunyai sifat sama atau seragam dengan induknya. Contoh tanaman yang sudah lazim diperbanyak secara kultur jaringan adalah tanaman anggrek. Sumber : dephut.go.id

    Bookmark and Share

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.